Poster salah satu massa aksi yang menyoroti masalah perempuan (Foto : Maheswara) |
Aksi yang diinisiasi oleh aliansi ‘Jogja Memanggil’ ini, diwarnai poster-poster, penampilan teatrikal, musik, orasi, dan puisi-puisi perjuangan yang mengangkat berbagai isu kekerasan, ketidakadilan, dan marginalisasi perempuan.
Salah satu poster bertuliskan “Kerusuhan Mei 1998 // 1.190 orang dibunuh terutama etnis Tionghoa, 85 Perempuan menjadi korban perkosaan, termasuk pembunuhan para saksi”. Poster tersebut menyuarakan keresahan terhadap potensi terulangnya represifitas militer yang dapat memperparah kekerasan berbasis gender jika Revisi Undang-Undang TNI benar-benar dijalankan.
Salah seorang orator menyebutkan perjuangan perempuan sering kali mendapat intimidasi, pelecehan, bahkan pembunuhan. Perempuan yang lantang menyuarakan hak-hak dan kritis terhadap isu sering kali dilabeli sebagai seorang pemberontak dan dianggap sebagai ancaman.
“... Perempuan di sini adalah perlawanan yang tak akan bisa kalian hentikan. Panjang umur perlawanan,” seru sang orator.
Dibawakannya puisi yang berjudul ‘Aku Berbicara untuk Perempuan’ menceritakan berbagai penderitaan perempuan dari berbagai daerah yang suaranya hanya dianggap sebagai angin lalu.
Selain menggelorakan perlawanan dalam berbagai bentuk ekspresi, beberapa peserta perempuan juga hadir sebagai relawan. Para demonstran perempuan mendirikan posko yang menjadi ruang aman bagi peserta aksi lain yang membutuhkan dukungan atau medis.
Dari pagi hingga sore hari, aksi massa berlangsung kondusif. Para demonstran berkomitmen untuk terus bertahan di halaman Gedung DPRD DIY hingga tuntutan mereka terpenuhi. Kehadiran perempuan dalam setiap aksi massa ini menjadi penanda bahwa perjuangan melawan represi bukan hanya soal kepentingan politik dan hukum melainkan juga perjuangan atas nama kemanusiaan.
Aisyah Setyaning Rahma
Reporter: Aisyah Setyaning Rahma dan Aprilianti Azzahra
Editor: Ariska Sani