Ilustratrasi: Nedyna Fajri Aeni Nur Azizah |
Tulisan ini merupakan tanggapan penulis terhadap tulisan Suden yang terbit di Ekspresionline dengan judul “HMIS Jual Pernyataan”, serta tulisan Ahmad Effendi yang terbit di Philosofisonline.id dengan judul “Bukan Pledoi HMIS: Tanggapan Untuk Suden”.
======
Setidaknya dalam beberapa hari terakhir,
dua argumen kritis mengenai kasus Kekerasan Seksual (KS) telah meluncur dan
menjadi perbincangan publik. Kedua argument tersebut, membuka cakrawala saya tentang
kasus KS yang terjadi di UNY. Argumen yang berasal dari Suden dan Ahmad,
sebetulnya berangkat dari satu permasalahan yang sama, yaitu buruknya birokrasi
kampus dalam menangani kasus kekerasan seksual.
Dalam pandangan Suden, ia menilai HMIS tak
boleh cuci tangan begitu saja dengan mengeluarkan surat pernyataan pemecatan
anggota secara tidak hormat. Lebih-lebih, seharusnya HMIS turut mengawal adanya
tindak lanjut dari kasus KS tersebut. Suden beranggapan bahwa HMIS telah gagal
mengedukasi anggotanya perihal moral, sejalan dengan dikeluarkannya pelaku dari
organisasi tersebut.
Pada sisi yang berbeda, Ahmad beranggapan
bahwa tindakan yang diambil oleh HMIS adalah langkah yang tepat. HMIS bertindak
responsif untuk memutus keterlibatan pelaku dalam organisasi, dibandingkan
civitas akademika lain (re: konteks UNY). Surat pemecatan ini tentu bukan
keputusan tergesa-gesa, melainkan hasil pikiran matang-matang. Terlebih pelaku
dan korban sebelumnya berada dibawah satu naungan HMIS, sehingga pemecatan
dilakukan untuk memutus rantai tersebut.
Dalam kacamata saya sebagai pembaca, kedua
argumen yang telah dilempar di ruang publik tidak benar, pun bukan berarti
salah. Artinya, kedua argument tersebut memiliki sisi-sisi separuh benar dan
separuh salah, dikembalikan lagi pada perspektif pembaca.
Terlebih, saya yakin penilaian Suden
terkait kasus KS ini tentu tak hanya berangkat dari kasus yang baru saja
terjadi. Melainkan sebaliknya, penilaian tersebut di dasarkan pada banyaknya
kasus KS yang terjadi di UNY yang menggantung begitu saja. Pada akhirnya Suden
menilai bahwa HMIS tak seharusnya lepas tangan, harus menyelesaikan kasus ini
sampai tuntas sebagai bentuk tanggung jawab terhadap anggotanya.
Nampaknya Suden muak dengan penanganan
kasus-kasus KS di kampus yang berjalan sangat alot, lebih jauh lagi mungkin
ingin memutus rantai kasus KS yang terjadi di UNY.
Keraguan pun tak luput dalam benak saya,
penilaian HMIS yang gagal dalam menangani anggotanya. Suden terlihat kecewa,
karena HMIS tak dapat memberi contoh yang baik bagi publik, pun tidak bisa
mengedukasi anggotanya mengenai moral. Lebih jauh yang saya dengar, pelaku
melakukan hal tersebut, saat dalam keadaan mabuk (re: tidak sadar).
Praktis, HMIS tentu tak memiliki kontrol
100% terkait dengan diri maupun pergaulan pelaku. Lebih-lebih untuk mengetahui
apa yang akan dilakukan oleh pelaku, karena sebenar-benarnya kontrol diri
merupakan tanggung jawab setiap individu. Kecacatan moral individu tentu tak
bisa dilimpahkan kepada orang lain.
Lalu saya sampai pada kesimpulan, bahwa
dikeluarkannya pelaku dari HMIS bukan sepenuhnya kegagalan organisasi tersenbut
dalam hal mengatur moral anggotanya. Hal tersebut adalah konsekuensi yang harus
diterima pelaku, pun saya menyetujui pemikiran Ahmad bahwa ia mendukung HMIS
atas tindakan tersebut.
Kesalahan adalah murni dari pelaku. Dia
tak bisa mengontrol akal sehat dan hawa nafsu, yang tentu merugikan korban dan
memicu pengalaman traumatis. Lebih jauh mengenai psikis, tak bisa dielakan
bahwa kejadian tersebut memicu rasa trauma dalam diri korban. Kehadiran pelaku
tentu membuat korban muak.
Saya rasa, pemecatan tidak hormat pada
pelaku tak merugikan pihak manapun. Pelaku harus menerima keputusan tersebut
sebagai bentuk konsekuensi.
Tanggapan Ahmad mengenai argument Suden,
pun sebaliknya patut diapresiasi. Namun, tentu bukan ini yang menjadi sorotan
utama dalam kasus kekerasan seksual di kampus. Melainkan bagaimana birokrasi
mengeluarkan kebijakan yang progresif dan tak terkesan fafifu.
Sudah seharusnya birokrasi kampus
berempati dan berusaha untuk menangani kasus-kasus kekerasan seksual yang
terjadi di UNY, pun setelah UU TPKS disahkan pada 12 April 2022 lalu. Atau
mungkin, pihak birokrasi kebingungan terkait advokasi kasus KS? Mengingat
beberapa waktu lalu beredar pernyataan bahwa dalam kasus KS di FBS, pihak
kampus meminta pelaku untuk bertemu dengan korban. Miris!
Apabila pihak birokrasi memang tak mumpuni
dalam menangani kasus KS yang terjadi di UNY. Berilah pernyataan kepada publik
terkait ketidaksanggupan tersebut. Saya rasa, banyak elemen-elemen di UNY dan
diluar kampus yang bersedia turut serta untuk memperjuangkan hak korban.
“Istana” tentu perlu terbuka, mencari solusi bersama terkait penanganan kasus
KS, bukan malah menutup diri rapat-rapat dengan dalih melindungi nama baik.
Sudah sepatutnya kita semua turut
menciptakan ruang aman, lepas dari predator kekerasan seksual. Sudah cukup audiensi-audiensi
tanpa aksi nyata. Penekanan ini terlebih untuk birokrasi, segera mungkin merancang
kebijakan progresif terkait penanganan kasus KS di UNY. Semua elemen wajib
menjadi pengawas, agar tercipta ruang aman tanpa kekerasan seksual, terlebih
dalam lingkungan pendidikan.
======
Opini adalah gagasan pribadi
penulis.
LPM Philosofis menerima tulisan berbentuk opini dari siapa saja yang ingin tulisannya dipublikasikan di Philosofisonline.id. Opini dapat dikirim ke sangpemulaphilosofis@gmail.com dalam format docx/doc dengan panjang tulisan antara 800-3000 kata.
Gilang
Kuryantoro
Editor: Rachma Syifa Fauzi Rachel